Seorang wanita berjalan perlahan menyusuri kumuhnya rumah susun di
salah satu sudut kota Jakarta. Dengan paras ayu dan aurat yang tertutup
itu ia menawan setiap mata disekelilingnya. Lirih pujian akan keindahan
parasnya samar terdengar di antara mereka yang melihatnya berjalan.
"Eh, nak Hafsah." Tegur seorang ibu takjub ketika wanita bernama
Hafsah itu berhenti di depan salah satu pintu rumah susun. Hafsah
tersenyum mengembang. "Ada apa nak, kok main ke tempat kumuh seperti
ini?" Tanya ibu itu. "Hehehe, iya ibu. Hafsah hanya ingin bertemu dengan
Ilham, ada keperluan penting bu. Hmm Ilhamnya ada ibu?" Jawab Hafsah
sambil tersenyum seraya melontarkan pertanyaan.
"Ilham, Ilhamnya lagii... hmm anuu.." Kata ibu itu terbata.
******
Redup cahaya matahari menyelimuti sebagian belahan bumi. Termasuk di
langit rusun itu. Corak hitam awan yang terlihat pudar itu menjadi
pemandangan tak bersahabat. Angin berhembus cukup kencang, menyapa debu
hingga berterbangan ke segala arah. Para penghuni rusun yang sedang
menjemur pakaian pun segera mengangkat jemurannya. Di ruang kecil tempat
singgah tetamu itu, Hafsah duduk bersama ibu dari pemuda bernama Ilham.
"Jadi, begitulah Ilham yang sekarang nak Hafsah. Ibu sendiri tidak
habis fikir!" Ungkap ibu itu menampakkan keheranan dan rasa sedih yang
menjadi satu. Hafsah pun tak percaya bahwa Ilham, pemuda berusia 24
tahun itu kini berubah 180°dari sebelumnya. Hafsah menatap iba pada ibu
itu. Mencoba menyemangatinya. Bahwa setiap perubahan manusia pasti ada
hikmah yang terkandung. Dan nantinya pasti akan diketahui hikmahnya
cepat atau lambat. Ibu harus sabar ya, Hafsah menenangkan. "Insya Allah
nak Hafsah, terima kasih ya nak, sudah buat ibu sedikit tenang." Jawab
sang ibu seraya menyimpulkan senyum di atas rasa sedih yang
dirasakannya. "Assalamu'alaikum...!" Salam pamit Hafsah seraya
menelungkupkan kedua tangannya di depan dadanya. "Wa'alaikumsalam..."
Angin masih agak kencang bertiup. Di belahan bumi dengan langit
berbeda, Ilham tengah duduk terdiam di sudut warung klontong pinggir
jalan. Adzan Dzuhur memanggil merdu terdengar cukup kencang, Masjid
memang tak jauh dari tempat Ilham terduduk.
"Ham, mari kita shalat bersama?" Ajak pak Yusuf penjaga warung.
"Tidak pak, terima kasih!" Jawab Ilham ketus. "Lho, kamu kenapa Ham?
Bukankah biasanya kamu paling semangat shalatnya." Tanya pak Yusuf
heran. "Ya untuk apa saya capai-capai shalat, tapi keadaan tidak berubah
sama sekali! Do'a, usaha dan semua sudah saya lakukan tapi apa pak!?Apa
yang Allah kasih untuk saya!? Tidak ada pak! Hanya kesengsaraan hidup
yang takberujung yang saya dapat!!" Jawab Ilham dengan amarah meluap.
"Astaghfirullahaladziiimm...!! Ilham, Allah tidak pernah ingkar atas
janjinya kepada seluruh makhluknya! Sejak zaman Nabi Adam sampai
sekarang! Apa yang merasuki pikiran kamu sampai kamu seperti ini
Ilham!!?" "Kalau bapak ingin shalat ya sudah sana shalat. Jangan ajak
saya! Sayasudah malas!" Tukas Ilham yang masih diliputi amarah.
"Astaghfirullahaladziim, semoga Allah membimbingmu kembali ke
jalan-Nya." Istighfar pak Yusuf seraya melangkah melanjutkan niatnya
untuk shalat dzuhur.
Hafsah menghadap Tuhannya dengan khusyuk. Panjat do'anya tercurah
beriring derai air mata membanjir. Memohon ampunan atas segala dosa yang
dilakukan. Sementara Ilham hanya lontang-lantung tanpa arah, Melangkah
tanpa tujuan. Dalam usai sujudnya menghadap ilah, terbersit gambar Ilham
yang dulu di dalam benaknya. Ilham yang dulu sangat rajin shalat, Ilham
yang dulu senantiasa mengajaknya pada kebaikan, Ilham yang dulu
memiliki spirit untuk terus melaksanakan perintah Tuhannya. Kini ia
berbalik, seperti yang diungkapkan oleh ibu Nilam di rusun itu. Hanya
karena kesulitan hidup di dunia Ilham berburuk sangka kepada Tuhannya,
Allah yang Maha Esa. Tak bertemu tiga bulan dengan Ilham, Hafsah melihat
perbedaan drastis pada diri Ilham. Gadis itu ingin mengembalikan Ilham
seperti dulu lagi. "Harus", gumamnya.
Setahun berganti,
Musim mengelupas seperti titah Tuhan. Cuaca kurang bersahabat bagi
Hafsah. Petir yang menyambar dan gelap yang memayungi membuat Hafsah
mempercepat langkahnya pulang. "Alhamdulillah" ucapnya sesampainya di
depan pintu rumahnya. Ia segera membuka pintu. Masuk dan membuat
secangkir teh hangat serta membawa sepiring kue kering untuk ngemil.
Kebiasaan Hafsah. Apalagi hujan kian mendramatisir tubuhnya yang jatuh
semakin deras.
Ilham yang kini hanya bisa berdiam diri, hancur sudah akidahnya.
Luluh-lantak keyakinan dan ketaatan yang dulu membuat Hafsah jatuh hati.
Meski kini masih ada. Namun awal jatuhnya hati wanita shalihah itu
adalah Ilham yang dulu ketika menjadi pemuda shalih nan gagah.
Di waktu serupa. Di bawah langit Ilham berada. Ia mencaci dan memaki
dengan kasar atas kehendak Allah, "Engkau tidak adil!" Tukasnya kasar di
sebuah lapangan tanah merah yang tengah di siram hujan deras. Kilat
berkelebat. Gemuruh petir yag menggetarkan orang-orang yang
mendengarnya. Namun tidak bagi Ilham yang sedang kalap. "Engkau bukan
Tuhan! Engkau tidak mengabulkan permohonan hambamu yang taat. Apa kau
hanya bisa berjanji dan berjanji?" Diktenya. "Wahai Tuhan. Allah yang
katanya penguasa! Tuhan semesta Alam! Apa engkau tak mampu memberikan
permintaanku!? Yang orang-orang selalu berkata, engkau bisa penuhi dan
melakukan segala sesuatu hanya dengan KUNFAYA KUN! Engkau tak lebih dari
pendusta seperti para bandit-bandit bengis di dunia ini. Atau Tuhan
hanyalah ciptaan dan angan-angan manusia, seperti yang dikatakan oleh
Ludwig Feuerbach sang Atheis!?" Umpatnya memecah hujan. Membuat langit
seolah murka. Petir menyambar-nyambar. Langit semakin gelap.
"Astaghfirullahaladzim...!! Apa yang terjadi pada Ilham? Tanya
Haikal. lelaki paruh baya berpayung yang melintas. Ia tetangga dekat
Ilham dan cukup dekat dengan bu Nilam, Ibu Ilham. Haikal segera
memberitahu bu Nilam. Naluri seorang ibu menjalar dalam jiwa ibu Nilam.
Di bawah hujan yang belum reda itu ia menjemput Ilham. Anak
satu-satunya. Dengan sekuat tenaga dan kasih sayangnya lewat tangis yang
meleleh di sudut pelupuk matanya. Akhirnya Ilham menurutinya untuk
kembali ke rumah. Lima hari tak pulang, Ilham menjadi semakin terpuruk
dalam kesesatan nyata. Sang ibu mengkhawatirkan anaknya yang tak kunjung
kembali, akhirnya ia memboyongnya kembali. Setelah keadaan mental Ilham
kian membaik. Segala wejangan dan nasihat pun di lancarkan bu Nilam. Ia
menjelaskan bahwa segala sesuatu yang menimpa makhluk taklain hanya
sebagai bentuk uji, coba, atau teguran bahkan bisa jadi itu adalah azab.
Dan dengan itu semua bukan untuk menjadikkan kita berprasangka buruk
pada Tuhan. Allah SWT. Namun justru harus mengingat apa yang selama ini
kita kerjakan.
"Kita memang miskin dan tidak bermateri sama sekali Ilham! Tapi
jangan membuat kita menjadi hamba yang dimurkai Allah! Kefakiran ini,
sudah diatur oleh Allah. Karena Allah lebih tahu kapasitas iman hambanya
ketimbang diri kita sendiri. Kefakiran ini jangan sampai menjadikanmu
kafir Ilham..!!" Tegas bu Nilam kemudian menangis terisak melihat anak
tunggalnya itu. Biar bagaimanapun Ilham adalah sosok yang menghormati
ibunya. Ibunyalah yang merawatnya sejak dalam kandungan. Beliau sangat
mencintai Ilham dengan segenap jiwa raga. Walaupun suaminya berkhianat
padanya dengan meninggalkannya bersama selingkuhan sang suami ke
Lampung. Hingga Ilham sama sekali tak pernah merasakan kasih sayang
seorang ayah. Namun kasih sayang beliau pada Ilham kecil sangat bulat.
Ia menjaganya dari apapun yang mengancam anaknya. Dengan semua itu Ilham
tak pernah membuat ibunya menangis. Ini pertama kalinya Ilham membuat
ibunya mengaliri airmata. Ia menatap iba ibunya. "Apa yang aku lakukan
pada ibu?"
Batinnya.
"Tidakkah kau sadari Ham, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Semua do'a
dan permohonan hambanya akan diberikan. Dan semua bergantung pada
keyakinanmu atas panjat do'a yang kau ucap dan kau harapkan untuk
terkabul." Jelas bu Nilam dengan suara paraunya karena banyak menangis.
"Kau harus segera sadar anakku!" Tambahnya seraya meninggalkan anak
tunggalnya itu.
******
___________________________________________________________________________
Senja telah lama lindap dalam pelukan malam. Peran sang mentari telah
digantikan oleh gemerlap bintang yang memenuhi angkasa. Meskipun tanpa
kehadiran sang bulan namun malam itu seolah menjadi titik balik bagi
Ilham akan keyakinanya pada Tuhan yang telah terkoyak.
Ibukota memang menghadirkan pesona keindahan dan kemegahan bagi
banyak orang tetapi dibalik itu semua ada potret miris dan menyedihkan
tentang kesenjangan kehidupan. Salah satu pemicu dari rentetan peristiwa
pilu yang membuat Ilham dekat dengan kekufuran Sehingga akhirnya
keyakinanya goyah dan mendikte eksistensi keberadaan Tuhan dengan segala
sifat-sifat-Nya.
Kekumuhan rusun itu seperti lukisan permanen yang tidak akan pernah
berubah. Para tetangga kian menatap Ilham dengan tatapan miris.
Seolah-olah mereka sedang melihat bangkai busuk yang dilemparkan ke
sungai penuh sesampah. Kemalangan Ilham kian menjadi. Nasihat sang ibu
tak kunjung meresap di hatinya. Wejangan yang diberikan tak meredam
sedikitpun perasaan murkanya pada Tuhan semesta alam. Ilham terus
mengatakan bahwa Tuhan hanya tokoh fiktif yang dibuat manusia sebagai
wadah untuk berimaji.
"Dasar orang-orang bodoh." Umpatnya setiap kali melihat orang-orang
shalat. Ataupun orang-orang yang beribadah. Ilham terperosok jauh dalam
kesesatan. Ia telah terikat pada satu paham yang disebut Atheis. Yaitu
paham yang secara garis besar ialah paham yang tidak mengakui adanya
Tuhan.
"Allahu Akbar. Itu adalah suatu petaka besar. Bahkan lebih besar
daripada sebuah planet jupiter. Bahkan jauh lebih besar lagi! Akal
pikiran manusia yang telah dirasuki setan durjana dan tidak mau mengakui
keberadaan Tuhan maka ia telah menjadi atheis. Bagaimana mungkin kita
mengingkari akan keberadaan Tuhan sedangkan kita sendiri ada dan hidup
di dunia ini tidak dengan sendirinya melainkan ada karena memang
diciptakan ?"
Entah kenapa Ilham terhenti sejenak. Ada sebuah magnet yang seolah
menarik hatinya untuk mendengarkan ceramah keagamaan yang memang rutin
diadakan di masjid yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ah dulu sebelum
keyakinanya goyah ia rajin menghadiri pengajian di masjid jami' itu.
Hatinya masih beku. Ilham membuat penyangkalan dalam hatinya. Aku ada
di dunia ini karena dilahirkan oleh ibuku, bukan diciptakan oleh Tuhan.
Seolah bersambung dengan pernyangkalan Ilham dalam hatinya, dan hal
itu seharusnya menjadi jawaban mutlak yang tak terbantahkan bagi
penyangkalan Iham. Ustadz yang tengah memberikan tausyiah di depan para
jamaah itu kembali melanjutkan, "Naudzubillah min dzalik ! Jika kita
berpikir kita ini ada di dunia ini ada dengan sendirinya, tidak
diciptakan Tuhan. Memang benar kita ada setelah dilahirkan oleh orang
tua kita, Orang tua kita dilahirkan karena adanya kakek nenek kita dan
seterusnya, dan seterusnya sampai ke manusia pertama yang hadir di muka
bumi yakni Nabiyullah Adam 'Alaihis Salam.....apa mungkin manusia
pertama ada dengan sendirinya? Jika tidak ada yang menciptakan?"
Berkelebat dalam benak Ilham teori Darwinisme yang di dapatnya waktu
di bangku sekolah mencoba mendukung akidahnya yang telah tersesat.
Manusia sebagai bentuk evolusi dari seekor kera? Nuraninya menolak. Ia
lebih meyakini Al-Quran sebagai dalil kuat bahwa manusia pertama
diciptakan dari tanah. Ah nurani kecil di hatinya yang selama ini ia
bunuh ternyata berkata lain. Menolak tegas pernyataanya yang mencoba
mendikte eksistensi tuhan.
Ilham berlalu dengan gundah. Keyakinanya yang sempat tersesat jauh
mulai menemukan jalan kembali kepada kebenaran manakala ia
terngiang-ngiang perkataan ustadz yang memberikan tausyiah di masjid
tadi.
"Jika demikian Barang siapa yang tidak bertobat dari ke atheisanya
maka adzab Tuhan teramat pedih dan nerakalah tempatnya kembali. Berapa
lama kita hidup di dunia? Hanya sebentar. Alangkah bodoh dan celakanya
manusia yang tak mau beriman sedangkan semua yang hidup di dunia ini
pasti mati. Apa mereka pikir orang yang mati itu bisa kembali hidup di
dunia ini lagi? Apa mereka pikir orang yang mati itu tak akan dimintai
pertanggungan jawan atas segala perbuatanya di dunia? Perbuatan baik
pasti mendapat balasan berupa pahala yang banyak disisi Tuhan-Nya dan
bukankah cukup adil jika Tuhan memberi balasan setimpal atas tiap
perbuatan dosa atau kejahatan yang dilakukan oleh manusia?"
Pemuda itu melangkah dengan gontai. Menyandarkan diri pada tembok
yang kumuh. Air mata mengalir dari sudut matanya. Hatinya kelu.
Pikiranya menatap kosong ke arah langit malam yang bertabur bintang.
Nestapanya kian hebat membelenggunya. Bayangan sang ibu yang selama ini
tegar dengan lilitan penderitaan dan kemiskinan berkelebat. Bagaimana
mungkin ia tega telah melukai perasaan seseorang yang telah melahirkanya
ke dunia. Merawat dan membesarkanya dengan penuh kasih sayang. Air
matanya membanjir semakin deras.
Kerlip cahaya bintang nun jauh di atas sana di atas tempat Ilham
terpekur duduk termangu seorang diri seolah tersenyum. Bintang, bulan,
ribuan galaksi-galaksi dan seluruh semesta alam tunduk dan taat pada
Tuhan Sang Pencipta. Bertasbih memuji-Nya. Bagaimana mungkin manusia
yang bak debu di luasnya jagad raya bisa berlaku congkak dan sombong tak
mau menyembah Dzat yang telah menciptakanya. Bahkan banyak yang
menyekutukan dan tak mau mengakui keberadaan-Nya. Termasuk dirinya. Air
matanya kian membanjir.
Ceramah seorang ustad yang tak sengaja didengar oleh Ilham ketika
melewati sebuah masjid ternyata belum mampu mengembalikan kesesatanya ke
jalan yang benar. Namun telah membuat lubang kecil di hati Ilham. Dan
atas kehendak Allah pemuda yang tersesat itu kembali ke jalan yang
benar. Sementara sang ibu hanya memandang dengan nestapa terhadap anak
semata wayangnya. Doa dan air mata mengalir sepanjang waktu memohonkan
ampun dan hidayah untuk Ilham.
Hafsah pun serupa. Ia merasakan apa yang dirasakan bu Nilam. Hafsah
pun telah mencoba dengan semampunya untuk mengembalikan Ilham.
Mengembalikannya pada jalan lurus sang Ilahi. Tuhan yang satu. Allah
yang Maha Besar. Allah yang Maha Kuasa diatas kuasa. Allahlah kebenaran
postulat.
****
Teriknya sinar sang mentari menyengat kota Jakarta.
Berulang kali Ilham menyeka peluh yang membanjiri wajah dan sekujur
tubuhnya dengan handuk kecil yang senantiasa terlilit di lehernya. Hidup
adalah sebuah perjuangan. Getirnya kehidupan telah ia rasakan sejak
kecil. Dengan hanya bermodal ijasah SMA sulit baginya mendapatkan
pekerjaan yang layak di kota sekelas Jakarta, Kota Metropolitan.
Bermacam-macam profesi ia jalani. Mulai dari buruh pabrik, loper koran,
tukang bangunan, juru parkir, kernet sebuah bus Metromini. Namun
pekerjaan itu tak membawanya pada kenyamanan hidup yang diimpikanya.
Sejak keyakinan dan akidah agamanya runtuh maka iri dan dengki seolah
bersorak riang di dalam hatinya. Rumah megah, kendaraan mewah, dan
setumpuk keinginan materi yang selalu menari-nari dalam benaknya.
Apabila ia melihat rumah-rumah megah di komplek perumahan yang selalu
disambanginya saat berjualan bakso. Hatinya iri. Juga ketika menyaksikan
hilir mudik kendaraan-kendaraan mewah yang lalu lalang di jalanan di
depan tempat ia biasa mangkal menjajakan dganganya, Bakso Malang.
Bagaikan bumi dan langit jika ia membandingkan dengan nasibnya sekarang.
Datangnya hidayah adalah kehendak Allah Azza Wa Jalla. Tuhan pemilik
alam semesta sebagai salah satu anugerah dan rahmat bagi si penerimanya.
Sifatnya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tak luput menyertai
orang-orang yang tulis beriman dan bertakwa kepada-Nya. Adalah Bu Nilam
dan Hafsah yang tiap waktu tak lekang berdoa memohonkan hidayah dan
ampunan untuk Ilham. Hidayah datang dengan berbagai macam cara.
Pertemuanya dengan Pak Rahmad siang itu seolah membuka mata hati Ilham
yang telah lama tertutup.
Seorang lelaki tua yang hanya mempunyai satu kaki berjalan tertatih
dengan bantuan kurk atau tongkat penyangga. Dipundaknya tersampir
peralatan sol sepatu keliling. Ilham masygul menatap bapak-bapak itu.
Nampak kelelahan dan kehausan. Dibantunya bapak-bapak itu duduk di kursi
kayu tempat biasa para pembeli duduk menikmati bakso Malang buatanya.
“Subhanallah, terima kasih nak atas kebaikan nak Ilham memberi bapak semangkok bakso. Semoga Allah membalas kebaikanmu.”
Ilham terenyuh mendengar perkataanya yang tulus. Bapak-bapak berusia
60 tahun yang bernama Pak Rahmad itu berbinar matanya saat ia memberinya
semangkok bakso manakala ia tahu seharian itu belum ada satupaun
pelanggan yang menwarkan jasanya. Ucapan doa bapak itu begitu tulus.
Menyentuh hatinya yang lama beku.
Hatinya bergetar. Ternyata ada yang jauh lebih menderita dan sengsara
di banding dirinya. Manakala Pak Rahmad menceritakan kisah hidupnya.
Walau kini hanya memiliki satu kaki, dicampakkan oleh anak-anaknya yang
durhaka dan tak mau merawat dirinya, meskipun beliau harus mencarikan
nafkah dan biaya pengobatan untuk istrinya yang sakit-sakitan namun tak
tersirat sedikitpun di wajah lelaki tua itu kesedihan atau penyesalan
dan tak pernah mengeluh atas kehendak Tuhan yang harus dijalaninya.
Meski menderita namun wajah bapak-bapak itu bak telaga yang sangat
bening. Keikhlasan nampak jelas tergambar di kerut wajahnya yang menua.
Sementara dirinya? Oh Tuhan pantaskah hamba ini disebut manusia? Batin
Ilham menangis. Perasaan hina dan malu yang tak lagi bisa digambarkan
dengan kata menyergap hatinya. Lubang di hatinya kian besar.
****
Hari-hari Ilham dilumuri getaran dosa besar. Penyangkalanya terhadap
eksistensi Tuhan semakin terkikis dan berganti dengan cahaya hidayah
yang perlahan menjemputnya. Waktu subuh yang berganti senja, dan senja
yang tergulung waktu subuh telah melaksanakan titah Allah. Subuh dan
senja yang saling menggulung itu menciptakan peredaran masa yang semakin
renta. Sebuah karya nyata yang indah, keindahannya tak bisa digantikan
oleh sebanyak apapun bait puisi atau syair indah dari kalangan manapun.
Hafsah merasakan ada yang berjalan dalam hatinya. Ia merasakan getaran
berbeda dihatinya. Ilham! Lirihnya. Dalam hatinya mengalun sebuah
debaran perubahan Ilham. Ia yakin bahwa Ilham pasti akan kembali. Pasti!
Yakinnya menatap cermin dirinya di kamar.
Sekian lama usaha dan do'a dilakukan. Sang ibu, Hafsah, juga para
kerabat yang mengenal Ilham. Pamannya, sepupunya, juga yang lain. Ilham
sepertinya kekurangan cinta. Ungkap Arbain, paman Ilham. “Kekurangan
cinta? Maksudmu Ar?” Heran bu Nilam. Bukankah ia telah memberikan kasih
sayangnya selama ini bahkan tanpa hilang sedetikpun. “Ya, Ilham
kekurangan rasa cinta. Sejak kecil bukankah ayahnya sudah tak ada. Pasti
Ilham tidak merasakan kasih sayang seorang ayah.” Papar Arbain. Bu
Nilam menatap heran pada Arbain. Hanya satu cinta yang bisa
menggantikannya. Yaitu cinta seorang isteri. Arbain menjelaskan.
Mendengar itu, Hafsah segera mengambil keputusan. Ia ingin menikah
dengan Ilham. Dengan harapan agar Ilham kembali kejalan Allah SWT. Tuhan
seru sekalian alam. Sanak kerabatnya terkejut bukan main. Sebab mereka
pun mengetahui bahwa Ilham sudah seperti seorang atheis meski tidak
mengikrarkan ke-atheisannya, namun tindak tanduknya mengatakan ia
atheis. Jelas saja banyak yang menentang niat Hafsah. Termasuk ayah dan
ibunya. Iaberusaha meyakinkan seluruh sanak kerabatnya. Terutama ayah
ibunya agar merestuinya untuk menikah dengan Ilham. Seminggu lebih ia
mencoba meyakinkan ayah dan ibunya. Berkali ia ditentang. Sampai ia
menangis tersedu-sedu di kamarnya. Isak yang menggetarkan. Tangis yang
merengek betapa sedihnya. Ayah dan ibunya selalu mendengar tangisan
anaknya itu. Lama-kelamaan mereka pun takkuasa membendung hati yang juga
tersayat karena membuat anaknya merintih perih.
"Apakah kau
sungguh-sungguh mencintainya anakku?" Lembut tanya sang ibu yang iba
pada keadaan anaknya itu. Iamemeluknya hangat hafsahpun membalas erat
pelukan ibunya. "Ya umi, Hafsah sangat mencintainya." Jawabnya
tersedu-sedu. Sang ayah yang berdiri di muka pintu kamarHafsah yang
terbuka itu pun jua meneteskan airmata. Tak kuasa melihat keperihan
anaknya karena keinginannya menikah dengan Ilham tidak disetujui. Jika
memang kau mencintainya dan ingin membawanya kembali pada jalan Allah
yang diridhai. Kembali pada agama yang menjadi rahmatan lil'alamin ini.
Maka, itu adalah perbuatan mulia. Maafkan kami. Ayah dan ibumu yang
tidak memikirkanmu. Dan membuatmu seperti ini. Dirundung kepedihan
mendalam. Hingga pesonamu yang selalu ayah lihat, memudar laksana
tulisan kapur yang taktuntas dihapus. Jika itu tekadmu. Jika itu
kemauanmu. Jika itu jalan yang ingin kau tempuh. Lakukanlah anakku!
Lakukan apa yang baik untukmu. Ayah tahu kau adalah wanita shalihah yang
mengetahui bagaimana kau akan menjalani hidupmu. Dengan caramu. Papar
ayahnya yang jua terisak mendalam. Tatkala ucapan ayahnya terungkap.
Hati Hafsah terasa seperti di tetesi embun yang sejuk. Menyejukkan
rongga-rongga tubuhnya. Rasa bahagia tak terkira menggauli dirinya.
Kecamuk yang meresahkan jiwanya telah hilang. Musnah. Sirna. Bersama
persetujuan dan restu ayah ibunya.
Pernikahanpun dilaksanakan. Ada yang berbeda pada Ilham ketika akad
nikah berlangsung. Sambut bahagia sanak saudara menjadi satu. Melimpah
ruah. Meskipun banyak orang yang menatap sinis. Miris. Iba. Bahkan
adapula yang menatap seolah membenci. Entah apa yang mereka rasakan
dalam acara pernikahan itu. Yang jelas itu tidak membuat kebahagiaan dan
keindahan suasana akad pernikahan memudar.
Firman Allah menitah masa bergulir dengan ketentuan-Nya. Enam bulan
menjalani hidup bersama Ilham. Mengarungi bahtera. Menyongsong
kebahagiaan terindah. Wajah Ilham berseri-seri. "Aku sangat mencintaimu
Hafsah. Aku tak membayangkan sama-sekali bahwa aku akan menikah
denganmu."Ucapnya mesra. "Aku pun begitu mas Ilham." Tutur Hafsah dengan
senyum manisnya. Selama bersama Ilham. Hafsah terus berusaha agar ia
kembali kejalan Allah. Namun usahanya agaknya belum berhasil namun ia
tetap tak menyerah. Ia terus memberondong Ilham dengan ajakkan yang
baik. Mengajaknya pada keridhaan Allah. Akhirnya dengan tutur bahasa
lembutnya. Hafsah berhasil meluluh lantakkan hati Ilham yang telah
terbentengi paham atheis. Ia mulai berfikir. Segala yang dilakukannya
adaah satu kesalahan dan dosa besar. Disela kemesraan mereka, Hafsah
menyelipkan bahasanya yang halus namun menuju pada niatnya menyadarkan
kesalahan suaminya. Terkikislah sedikit-demi sedikit keras hati seorang
Ilham. Hingga ketika ia mendengar ibunya bercerita tentang yang
dipakukannya di lapangan tanah merah itu. Ilham menyadarinya bahwa ia
telah MENDIKTE TUHAN.Apakah aku sudah gila!? Batinnya menyesal. Seketika
itu Ilham pun mendapatkan hidayahnya. Iamengingat seluruh perbuatannya
adalah kekejian yang takbisa dimaafkan. Tuhan yang memiliki hidup
matinya. Dan segala yang ada pada dirinya. Bahkan seluruh dunia serta
isinya. Ia dikte dengan caci makiyang sangat kejam. Apakah Allah
memaafkan aku ibu!? Hikahiks hiks. Tanya Ilham terisak mengharu biru
sambil mencium kaki ibunya. Hafsah merasakan perasaan suaminya. Dan
mengalirlah air bening di sudut matanya. Ia menangis tertahan.
"Allah akan mengampunimu anakku. Bertaubatlah dengan sungguh." Ibunya
menangkan. Ilham bersujud. Menangisi perbuatannya pada Tuhannya
sendiri. Ia merasa menjadi orang terkeji. "Mungkin bandit-bandit bengis
hanya mencaci manusia lainnya. Membunuh manusia. Juga merugikan manusia.
Namun aku, aku mencaci Tuhan. Aku membunuh keberadaan Tuhan. Aku
Merugikan diriku sendiri. Kefakiran membuatku terperosok dalam ke jurang
kesesatan terburuk. Astagfirullah...!!! Tangis Ilham meledak di rusun
itu. Hafsah merangkul suaminya yang tengah merasakan betapa kejinya
dirinya. Langit gelap menjadi lukisan penyesalan Ilham. Sudut-sudut
kumuh rusun itu. Terlihat jelas jika dari langit gelap itu. Ruang tetamu
itu yang menjadi saksi bisu penyesalan Ilham.
Kefakiran yang buruk tanpa iman. Maka dekat dengan kekafiran.
Kefakiran yang baik tanpa iman pun akan sama. Bukan hanya kefakiran
namun kekayaan jua memiliki tahta serupa. Nabi Shollallaahu alaihi wa
sallam bersabda, "Wahai Allah aku berlindung padamu dari fitnah (cobaan)
buruknya kekayaan, dan fitnah (cobaan) buruknya kefaqiran" (HR. Shahih
Muslim).
Jagalah iman dengan segenap jiwa raga. Sertakan Allah dalam hatimu.
Sesungguhnya ''Qalbu Mukmin Baitullah'' Hatiorang-orang mukmin adalah
rumah Allah.
***
Tamat