Translate

Kamis, 07 Mei 2015

Guru TK : Sosok Istimewa yang Sering Terlupa


carrousel..

Di mata saya, sosok seorang guru TK itu begitu istimewa. Sejak kecil sampai sekarang, saya selalu memandang seorang guru TK dengan rasa salut dan kagum. They are strong and delicate person at the same time.

Kenapa? Apa sih spesialnya? Bukankah setiap wanita (rasanya) bisa menjadi guru TK? Tak perlu keahlian khusus atau jenjang pendidikan tinggi untuk bisa menggeluti profesi mulia tersebut. Benarkah?

Eitsss.. Siapa bilang tiap wanita bisa jadi guru TK?  Contohnya aja saya, yang merasa nggak sanggup jadi guru TK. Mungkin karena stok kesabaran saya yang masih jauh dari cukup, heheu..

Karena buat saya, nggak semua wanita mampu sabar dan telaten menghadapi tingkah polah anak-anak yang serba susah ditebak itu. Anak-anak seusia mereka yang masih bergantung sepenuhnya pada orang dewasa. Berinteraksi dengan manusia-manusia kecil dengan jiwa jujur dan polos.

Sedikit-sedikit merengek, minta ini-itu, ngambek, minta pulang, kangen mama di rumah, menangis tanpa sebab yang jelas, menumpahkan minuman di lantai kelas, bertengkar rebutan mainan. Dan masih banyak lagi perilaku khas anak-anak lainnya..

“Bu guru, aku mau pipis, tapi udah keburu pipis di sini..”
“Bu guru, aku nggak mau main sama dia, dia nakal..”
“Bu guru, aku mau cerita. Sini deh bu.. “
“Bu guru, aku nggak mau mewarnai lagi, capek..”
“Bu guru, aku mau pulang aja. Aku nggak mau sekolah..”
“Bu guru, aku mau kertas warna yang banyak..”
“Bu guru, aku laper. Boleh makan sekarang?”
“Bu guru, bukain bungkus permen ini dong..”
“Bu guru, boleh aku libur terus?”
“Bu guru, aku mau..”
“Bu guru, aku..”
“Bu guruuu…”
Daaaan berbagai permintaan istimewa lainnya. Tidak mudah menghadapi tingkah polah anak-anak yang serba unik itu. Butuh kesabaran ekstra dan trik khusus untuk menjaga suasana kelas agar tetap tertib. Dan yang tak kalah penting, menjaga agar emosi tetap terkendali.

Makanan yang tumpah di sana sini, coretan krayon di tembok dan meja, anak-anak yang tidak bisa diam, berlarian dan berteriak-teriak adalah rutinitas yang harus dihadapi setiap hari oleh seorang guru TK. Hari-hari yang penuh kejutan dan juga penuh warna.

Ya, tidak mudah memang, tapi bagi seorang guru TK, warna-warni itu adalah hal yang menyenangkan. Sesuatu yang mereka rindukan ketika musim liburan tiba. Terselip rasa sedih ketika datang tahun ajaran baru, saat-saat untuk berpisah dengan murid-murid tercinta yang sudah dianggap seperti anak sendiri.

Seorang guru TK juga dituntut untuk kreatif menemukan ide-ide baru. Membuat waktu bersama murid-muridnya jadi lebih hidup, ceria dan menyenangkan. Karena anak-anak seusia mereka cenderung lebih gampang bosan dengan rutinitas kegiatan yang itu-itu saja.

Mengobrol dengan guru TK adalah sesuatu yang menarik bagi saya. Ketika Harits pertama kali masuk TK, saya sering mendapat ‘surat cinta’ dari guru kelasnya. Ternyata perilaku anak-anak seusia Harits dan teman-temannya itu ‘ajaib’ ya. Kadang bikin geleng-geleng kepala, kadang bikin senyum-senyum geli. Masya Allah :)
Ya, anak-anak, dengan segala tingkah polos mereka mengajarkan kita begitu banyak hal. Ketulusan dalam menjalin pertemanan, keceriaan dalam menjalani hari-hari tanpa beban, kejujuran dalam bertutur kata, bersihnya dari bermacam dendam dan prasangka. Juga kelapangan hati untuk memaafkan ketika berselisih, dan kembali bermain bersama tak lama kemudian, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Hati mereka begitu putih dan tak ternoda.
Seorang guru TK mengurusi begitu banyak anak yang masih belum bisa apa-apa, seorang diri. Menyuapi, mengantar mereka ke kamar mandi, membersihkan kotoran mereka ketika tak sengaja pipis atau BAB di kelas, membujuk ketika mereka ngambek, menemani mereka mengerjakan prakarya sampai lewat waktu istirahat, mengawasi siapa yang menjemput mereka pulang di sekolah dan memastikan mereka pulang dengan selamat ke rumah.

Seorang guru TK adalah sosok pendidik kedua setelah orang tua. Lewat tangannya kita belajar berbagai ilmu dasar dalam kehidupan. Berhitung, membaca, mengenal angka, warna dan bentuk. Darinya kita mengenal sosok ‘guru’ lain selain Ibu dan Bapak tercinta. Darinya kita belajar tentang kelembutan dan kesabaran. Darinya pertama kali konsep ‘guru dan sekolah’ terbentuk di kepala-kepala mungil kita..

Tak banyak imbalan yang diterima oleh para guru sederhana itu. Gajinya pun mungkin tak seberapa. Kadang malah mereka harus rela merogoh kocek sendiri demi menutup pengeluaran yang munculnya sering tidak terduga. Tapi tugas mereka begitu banyak bahkan sering tidak terdeskripsikan dengan pasti..

Tak banyak yang masih mampu mengingat sosok guru TK-nya setelah mereka beranjak dewasa. Tapi tak demikian dengan saya, yang masih terbayang jelas seperti apa guru TK saya dulu.
Guru favorit saya waktu TK, namanya Bu Sri – Rahimahallaah. Orangnya cantik, ramah dan keibuan. Di antara tiga guru yang menangani TK A dan B, beliaulah yang paling mendapat tempat spesial di hati saya. Beliau begitu sabar dan lembut dalam mengajar. Saat istirahat, ketika sedang menunggu giliran naik ayunan, beliau sering mengajak saya mengobrol. Juga mengajari saya berenang untuk pertama kalinya.
Di mata saya waktu itu, beliau adalah sosok ibu guru yang begitu sempurna. Baik dan penuh perhatian. Ketika saya bertengkar dengan teman sekelas, beliau bisa bersikap tegas, tapi tetap lembut. Bahkan ketika pernah suatu saat saya bertingkah dan beliau memberi hukuman ringan, saya tetap merasa bahwa beliau selalu menyayangi saya.
Sayangnya beliau tak berusia panjang.. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya mendengar kabar bahwa beliau telah berpulang. Saya kaget sekali, karena beliau masih begitu muda. Sedih sekali rasanya saat itu, saya menangis.. kehilangan satu sosok guru yang sangat berkesan dan dicintai. Semoga Allah merahmati dan mengampuni dosa-dosa beliau..
20 tahun telah berlalu, namun saat-saat menyenangkan ketika duduk di bangku TK tidak pernah hilang dari ingatan. Masa-masa indah ketika kami membentuk rumah-rumahan dan jembatan dari balok kayu, menggambar, menggunting, main bola keranjang, mencocok kertas dengan lem, membuat prakarya dari kertas krep, menyikat gigi bareng kawan-kawan, makan sehat mingguan, membuat burung-burung kertas warna-warni dari kertas marmer, belajar berenang, senam rutin setiap sabtu pagi dan jalan-jalan perpisahan ke Dufan. All those memorable things, still remain in my heart..

Begitu juga dengan kenangan sosok ibu guru teladan yang selalu membekas di hati saya, sampai saya dewasa. Bagi saya, jasa guru terutama guru TK tidak pernah bisa terbayar oleh nominal uang. Padahal, menurut saya justru guru TK yang tanpa pamrih dan berdedikasi itu pantas untuk mendapat apresiasi besar dari lingkungan sekitarnya.

Begitu besar jasa dan pengorbanan mereka dalam hidup saya. Walau kadang profesi mereka dipandang biasa saja, tak ada yang istimewa. Walau mungkin besar imbalan yang diterima tidak sebanding dengan pengorbanan yang mereka berikan, mudah-mudahan pahala besar menanti bila apa yang mereka lakukan adalah ikhlas lillaahi Ta’ala.
Terima kasih, bu guru.. Terima kasih atas segala jasa-jasamu.. Kalianlah yang mengenalkan saya dengan sosok seorang guru, pendidik, pengajar di sekolah, untuk pertama kalinya. Kalian yang hadirnya begitu berarti, membuat masa kecil saya menjadi lebih ceria dan penuh warna.
~ Jakarta, suatu pagi di penghujung Desember 2014, persembahan istimewa untuk sosok-sosok istimewa di luar sana..

Rumah, Ladang Pahala Bagi Muslimah…




image

Bagi seorang istri…

Segala keletihan dan kepayahan dalam mengurus rumah, mengasuh anak, melayani suami, memasak, mencuci baju, menyetrika dan selainnya.. Betapa ruginya jika semua itu hanya diniatkan karena kewajiban semata. Bahkan ada sebagian wanita yang menganggapnya sebagai beban. Padahal, jihadnya seorang wanita adalah di dalam rumahnya.

Di rumahnya, banyak ladang pahala terbentang. Tugas-tugas rumahtangga yang ketika semuanya itu diniatkan sebagai ibadah dan dilakukan dengan ikhlas mengharap wajah Allah, maka ganjarannya adalah surga.

Sekecil apapun hal yang kita lakukan, niatkan sebagai ibadah dan bentuk pengabdian terhadap keluarga. Maka ia akan terasa ringan, tidak memberatkan. Kita pun akan enjoy menjalankannya, karena kita melakukannya bukan semata hanya karena kewajiban, apalagi sebagai beban.

Selain itu, mengurus rumah dan segala kerepotannya dengan tangan sendiri, memberikan rasa yang berbeda di hati ini. Ada kepuasan tersendiri. Capek.. tapi happy, alhamdulillah. Dan bukankah dunia ini memang tempat untuk berjuang dan bersusah payah??

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya :
“Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?”
Beliau menjawab: “(Istirahat yang sesungguhnya ialah) Pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”
Happy housekeeping, mommies! Because here, in our homes.. is where our hearts always belong to   <3

~ Yogyakarta, di Beranda Kos Tercinta..

Istrimu Bukan Pembantu

green gardening time
 
Obrolan di suatu siang dengan seorang kawan via Messenger..
  • Me: “Udah berapa bulan dek hamilnya?”
  • Fulanah: “Masuk trimester 3 mbak..”
  • Me: “Wah udah berat banget tuh rasanya.. Mau ngapa-ngapain serba salah. Begah..”
  • Fulanah: “Banget mbak, udah susah kalo duduk nyuci atau angkat yang berat-berat. Kalo habis ngerjain kerjaan rumah rasanya capek banget.. Nggak ada tenaga..”
  • Me: “Semua dikerjain sendiri? Emang suami nggak bantu-bantu dek?”
  • Fulanah: “Iya mbak, nggak ada pembantu. Suami mana mau bantuin aku beresin rumah. Pantang banget buat dia mbak. Aib..”
  • Me: “Lho, kenapa? Rasulullaah aja mau lho bantuin kerjaan istri. Kasian kamu dek, hamil besar masih harus kerja berat.. ”
  • Fulanah: “Entahlah mbak. Dari awal nikah emang udah begitu.. Ya mau gimana lagi..”
Saya menghela nafas panjang. Masih ada ya suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri. Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun tak pernah mau untuk sekadar meringankan kewajibannya. Seakan-akan membantu pekerjaan rumah merupakan cela bagi dirinya selaku suami.

Suddenly I look back at my life and reflect. Betapa bersyukurnya saya, dibesarkan dalam keluarga yang memegang prinsip gotong royong dalam menyelesaikan tugas rumah tangga. Bapak saya adalah tipe kepala rumah tangga yang tidak enggan berbagi tugas dengan istri dan anak-anaknya.

Beliau tidak segan ikut membantu mencuci baju, menyapu, meracik sayuran dan sebagainya. Beliaulah yang sering kami andalkan untuk mengulek bumbu karena memang beliau orangnya telaten dan hasil ulekannya halus. Nggak kayak anaknya yang dikit-dikit mengandalkan blender ketimbang cobek dan ulekan. Ahahaha. #ngaku
Karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang saling bantu membantu mengerjakan urusan rumah tangga, maka potret suami ideal yang terekam di benak saya sejak remaja adalah sosok suami yang dengan sukarela membantu pekerjaan istrinya. Dan itu adalah cita-cita saya sejak masih kecil.
“Aku nanti pengen punya suami yang kayak Abi. Suka bantuin pekerjaan istri!”
Dan ternyata Allah mengabulkannya. Saya dikaruniai sosok suami yang family man dan penyayang keluarga, plus suka berbagi tugas membereskan rumah dan segala printilannya. Mengepel, mencuci piring, memandikan anak-anak, membantu mengganti popok si kecil sampai memasak sendiri makanan dan menyuapi anak-anak di suatu sore ketika saya sudah terlelap karena kelelahan..

Ketika dinyatakan positif hamil sejak anak pertama, praktis saya dibebastugaskan dari kegiatan mencuci baju (waktu itu belum punya mesin cuci). 9 bulan suami yang menggantikan tugas saya mencuci baju. Dan melarang saya berkegiatan berat yang bisa bikin kelelahan.

Alhamdulillah.. maka nikmat Allah mana lagi yang hendak saya dustakan? Semoga saya dapat terus belajar menjadi sosok istri yang senantiasa bersyukur atas segala keadaan.

Mendengarkan curhatan kawan saya tadi, menyimak realita yang terjadi di sekeliling saya, menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang istri yang bekerja keras sampai hampir kolaps sementara suaminya asyik santai duduk di kursi sambil baca koran.. Menyadarkan saya bahwa bagaimana seorang lelaki dibesarkan, akan mempengaruhi kepribadiannya kelak setelah dewasa.

Contoh saja, bapak saya dulu adiknya banyak. 12 bersaudara. Sebagai anak ketiga, secara tidak langsung bapak dituntut untuk bersikap dewasa,  berperan sebagai pengayom sekaligus pengasuh adik-adik beliau. Sering disuruh ke pasar, memasak, mencuci dan memandikan adik-adik ketika Mbah dulu sedang repot.

Begitu juga dengan Papah mertua saya. Beliau suka membantu Mamah di dapur, mencuci piring, menyapu. Meskipun saat itu ada saya di dapur. Tapi beliau tidak merasa malu atau gengsi.

So I take this raw conclusion : seorang anak laki-laki yang sedari kecil melihat figur seorang ayah yang family man, penyayang dan tidak enggan membantu pekerjaan istri maka akan menerapkan hal yang sama kelak ketika ia berumahtangga.
“Fathers! Please show good role modeling to your sons by helping out at home.”
Begitu juga yang sekarang sedang saya tanamkan pada anak-anak saya, terutama Harits. Memberi pengertian bahwa tugas rumah tangga bukan monopoli kaum wanita saja. Mengajarkan bahwa sudah menjadi kewajiban anak untuk membantu orang tuanya di rumah. Baik itu anak laki-laki atau perempuan.

Setiap hari, saya berikan anak-anak tugas-tugas ringan. Menyapu, membereskan ruang tamu, mengepel ketika menumpahkan sesuatu, menaruh sendiri piring bekas makan ke dapur, merapikan kamar tidur, menyikat wastafel dan lain sebagainya. Dan mereka mengerjakannya dengan suka cita. Iya, supaya bisa bebas mainan air :D

Ketika saya menyuruh mereka mengerjakan ini itu.. sebetulnya manfaatnya bukan untuk saya. Memang saat itu saya merasa bersyukur karena terbantu, pekerjaan jadi lebih ringan.. But that’s not my point.

Tujuan utamanya adalah agar mereka paham prinsip gotong royong dalam keluarga. Again I say : family is a teamwork. Juga untuk melatih kemandirian mereka, mengasah mental untuk bekerja keras dan mengajarkan mereka memikul tanggung jawab sejak kecil.

Membiasakan mereka untuk rajin dan peka terhadap situasi rumah. Kalo ngeliat yang berantakan, bawaannya nggak betah karena sudah terbiasa dengan kerapian. Dan yang paling penting, mengajarkan kepada anak-anak laki agar jangan ada rasa malu ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
“Mothers! Please teach your sons to help out in the house. It’s sunnah! And their future wives will thank you!” ~Yasmin Mogahed
Boys who help their moms and husbands who help their wives with household chores? There’s nothing to be ashamed of! Kenapa harus malu? Teladan umat manusia, Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam saja mencontohkannya.
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”,
Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air
di ember.”
Dalam Syama’il karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, “Dan memerah susu kambingnya…”
Ibnu Hajar menerangkan faidah hadis ini dengan mengatakan, “Hadis ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan hendaklah seorang suami membantu istrinya.”
(Kisahmuslim.com)
Seorang suami yang baik tentu paham, istrinya bukan robot yang bisa bekerja 24 jam full tanpa kenal lelah. Istrinya bukan sosok sempurna dengan anak-anak sempurna, masakan yang sempurna dan rumah yang sempurna tanpa cela. Dia tak sempurna seperti juga dirimu yang jauh dari kata sempurna.

Istrimu adalah partner hidupmu, cinta sejatimu, ibu dari anak-anakmu. Istrimu, dengan segala keterbatasannya adalah juga manusia biasa. Sama halnya sepertimu, ia bisa merasa lelah, marah, jenuh dan tak berguna.

Istrimu, bukan pembantumu. Dan ia sama sekali tak layak kau anggap sedemikian rupa. Seandainya engkau posisikan dirinya sebagai pembantu dengan nafkah bulanan yang engkau berikan sebagai gajinya, maka berapa nominal yang pantas engkau berikan sebagai penebus jasa-jasanya selama ini? Berapa jumlah rupiah kau sanggup untuk membayarnya?

Dengan job description yang demikian banyaknya, skill multitasking dan kepiawaiannya menuntaskan beberapa tugas rumah secara bersamaan, mengasuh anak, memasak makananmu, mengajari anakmu ilmu-ilmu baru, melayani dirimu, mengatur keuangan keluarga, bahkan ikut serta mengambil peran mencari nafkah.
Juga mengandung serta melahirkan anak-anakmu dari rahimnya dengan susah payah dan penuh perjuangan. Dapatkah engkau membayarnya dengan uang?

Maka perlakukan istrimu dengan sebaik-baik perlakuan. Lembutkanlah perkataanmu, berilah ia udzur atas kekurangannya, seperti ia memberi udzur atas kekuranganmu. Dan jika ia bengkok dan keliru, luruskanlah dengan hikmah dan kasih sayang, bukan dengan keangkuhan dan kekerasanmu yang justru akan mematahkannya.

Luangkanlah waktu untuk berduaan saja dengannya, dengarkanlah keluh kesahnya, jadilah sahabat terbaik baginya untuk mencurahkan isi hati. Dan ketika ia penat, jadilah bahu untuknya bersandar. Kalau bukan kepada engkau, suaminya.. kepada siapa lagi ia hendak menumpahkan rasa?

Dukunglah ia untuk meng-upgrade skill dan passionnya yang terpendam selama ini. Mengikuti berbagai kursus, mengembangkan bakat, mengikuti seminar-seminar yang bermanfaat dan dauroh khusus muslimah. Selama itu bermanfaat dan tidak melanggar syari’at, why not? :)

Berilah ia sedikit jeda dari rutinitas hariannya. Seorang istri  butuh waktu untuk sendiri, untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, untuk menyegarkan pikiran sejenak dari tugas-tugas rumah tangga yang seperti tak ada habisnya. Bahkan seorang pembantu rumah tangga memiliki hari libur dan hak untuk mengajukan cuti.

Bagaimana dengan seorang ibu? Adakah waktu libur baginya? Nyaris tak pernah ada. Karena bagi seorang wanita, menjadi ibu bukanlah profesi. Ia adalah kehidupan sekaligus tempatnya mengaktualisasikan diri dengan penuh dedikasi. Being a mother is truly a blessing <3

Selalu dan senantiasa.. Ingatkan kembali tujuan hidup kalian berdua selama ini: striving your way together to reach Jannah. Karena kebersamaan di dunia ini tidaklah cukup.

Jika engkau masih enggan untuk turut membantunya dalam pekerjaannya, maka setidaknya, maklumilah dia.. Abaikanlah debu-debu yang menempel di lantai ruang tamu, mainan-mainan yang berserakan di lantai, makanan yang belum siap terhidang di meja.. Yang kaudapati di suatu sore ketika engkau pulang kerja.

Maklumilah bahwa ia hanya punya dua tangan, dua kaki dan satu kepala untuk menuntaskan semua kewajibannya yang hampir tak terhingga itu. Maklumilah bahwa ia hanya sosok wanita biasa dengan tuntutan-tuntutan yang sederhana.

Yaitu agar engkau selalu mencintai, mengerti dan menerima dirinya, sepenuhnya. Karena dalam kehidupan perkawinan kalian berdua, baginya tidak ada yang lebih penting lagi daripada itu.
~ Jakarta, a morning after the rain has fall.. January 2015

JAYA DENGAN AL-QUR’AN...!

Featured image


Kunci kejayaan dan kemuliaan suatu ummat sangat tergantung pada interaksi mereka dengan Al-Qur’an.

Bila mereka mempedomani Al-Qur’an, Allah akan memuliakan mereka di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, bila mereka berpaling dari Al-Qur’an, Allah hinakan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به الآخرين (رواه مسلم)

Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab (Al-Qur’an) ini dan menghinakan kaum yang lain dengannya pula (HR. Muslim).

Sumber ==> Muhammad Zaitun Rasmin, Lc.

Rabu, 06 Mei 2015

`` Seperti Air ``





Air adalah perlambang alam yang luar biasa masterclass kehidupan.

Sifatnya yang lentur seolah berbisik kepada kita bahwa kelenturan.

Bukanlah kelemahan, kelenturan justru sumber kekuatan.

- Beberapa Sifar -

  1. Air jernih tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Jika hanya sekedar melihat orang akan mengira bahwa air adalah sesuatu yang sangat sederhana di sekeliling kita. Namun sejatinya air adalah sumber kehidupan. Di mana ada air, dibsitu ada kehidupan. Jadilah seperti air yang selalu jernih, yang menyehatkan jiwa dan raga.
  2. Air seolah berbisik mengajari kita untuk bersabar.Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya, ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah kecil dia nyelip, ketemu batu dia menyibak. Mengalir lentur. Ketemu bendungan, dia terus mengumpulkan diri sendiri, hingga semakin banyak, semakin tinggi, penuh terlampaui bendungan tersebut, untuk mengalir lagi. Seolah dia tidak melakukan apa pun, hanya diam, sabar, tenang, tapi sedang terus berusaha habis-habisan.
  3. Air adalah pelarut universal, karena air melarutkan lebih banyak zat dari cairan apa pun.Ini berarti bahwa di mana air mengalir, baik melalui tanah atau maupun melalui badan kita, air itu membawa serta zat-zat berharga seperti zat kimia, zat mineral (tambang) dan bahan gizi. Hal ini mengajarkan kita untuk bisa bermanfaat dan membawa hal-hal yang baik dalam kehidupan kita untuk kepentingan sekeliling kita. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai penyimpan panas yang sangat baik. Sifat ini memungkinkan air tidak menjadi panas atau dingin dalam seketika. Perubahan suhu air yang lambat mencegah terjadinya stress pada makhluk hidup karena adanya perubahan suhu yang mendadak dan memelihara suhu bumi agar sesuai bagi makhluk hidup. Sifat ini juga menyebabkan air sangat baik digunakan sebagai pendingin mesin. Dalam heningnya, air seolah mengajari kita untuk tidak mudah berubah “suasana”. Tidak cepat marah dan lekas berubah ubah seketika tergantung mood. Tidak reaktif.
  4. Air selalu mengalir ke muara. Tidak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tetapi akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Patut diingat, hal terpenting bukanlah waktu tempuh yang akan dilalui, tapi seberapa besar keyakinan untuk menuju muara atau visi atau impian yang akan kita gapai.
  5. Air dapat beradaptasi menyesuaikan bentuknya dengan wadahnya. Ini karena sifatnya yang menekan ke segala arah. Hal ini mengajari bahwa kita semestinya tidak hanya sekedar mengisi ruang, tapi juga bisa beradaptasi dan berinteraksi serta bersifat solid di lingkungan mana pun kita berada. Laksana air yang apabila dituangkan di tempat apa pun, dia akan bergeraknaik secara bersamaan.
  6. Air juga mengajarkan kita untuk rendah hati. Karena kita sering lupa, bahwa air menutupi 2/3 seluruh permukaan planet bumi. Jadi kalau kita sudah keliling dunia, mengunjungi 180 negara lebih, itu sebenarnya hanya 1/3 bumi saja.

Jadilah seperti air yang selalu jernih yang menyehatkan jiwa dan raga.…

Hal ini mengajarkan kita untuk bisa bermanfaat dan membawa hal-hal yang Positif..

Jadilah Istri Yang Romantis, Wahai Putriku...

Featured image 

Featured image

==> Sebuah Pesan dari Seorang IBU <==

Wahai putriku, bacalah pesan-pesanku ini :

Putriku …
Jangan engkau kira, bahwa pernikahan itu hanya cinta dan kehidupan yang penuh dengan perasaan yang menyenangkan hati,  kata-kata lembut yang engkau dengar siang malam…

Putriku …
Janganlah heran jika engkau telah mempersiapkan malam yang romantis dengan segenap kemampuanmu, tiba-tiba suamimu menemuimu seolah-olah engkau tidak ada …
Walaupun engkau berupaya untuk merayunya, namun suamimu berkata dengan tenang : “Saya tidak punya waktu untuk hal ini.”
Atau berkata : “Saya sedang sibuk.”

Putriku …
Janganlah heran jika suamimu tahu engkau sedang sakit, tapi dia lupa menanyakan keadaanmu…
Jangan heran jika suamimu kurang memperhatikan untuk mengagumi kecantikanmu dan rumahmu yang rapi…
Jangan heran jika engkau tidak mendengar darinya ucapan cinta dan rayuan…

Putriku …
Janganlah engkau menunggu bahwa perahu bisa berlabuh diatas daratan yang kering…
Segeralah engkau yang mendahului  sebelum suamimu, janganlah engkau menanti darinya…

Ingatlah putriku…
Sesungguhnya lingkungan suamimu berbeda dengan lingkunganmu, kadang suamimu berada di lingkungan yang keras, atau ibu-bapaknya sibuk, sehingga dalam kehidupannya tidak mendengar kata-kata cinta dan kasih sayang, dsb…

Ingatlah …
Bahwa seorang suami masuk kedalam kehidupan rumah tangga dalam keadaan khawatir tidak mampu memikul tanggung jawabnya, karena tanggung jawab laki-laki lebih besar daripada tanggung jawab perempuan, sehingga ada perbedaan yang jelas sekali …
Karena mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga merupakan tanggung jawabnya…
Maka pikirannya sibuk dengan hal-hal seperti itu, dan dia tidak berpikir seperti yang engkau pikirkan putriku …

Ingatlah  …
Bahwa tabiat laki-laki berbeda dengan tabiat wanita…
Ini merupakan fithrah masing-masing dari keduannya…
Janganlah engkau berharap untuk  dapat mengubah tabiat dan fithrah dalam waktu singkat…

Ingatlah …
Bahwa pekerjaan laki-laki itu  penuh dengan problem yang amat berat… yang akan memberikan pengaruh kepada urat syarafnya setiap saat…

Ingatlah …
Bahwa laki-laki itu berbeda-beda dalam cara mengungkapkan perasaan mereka :
  • Ada laki-laki yang pandai dalam seni mengungkapkan perasaannya,
  • Ada yang mengungkapkan dengan perbuatannya,
  • Ada yang kehabisan kata-kata sehingga tidak sanggup berbicara…
Maka terimalah suamimu dengan keadaan apapun, ucapkan pujian kepada Allah, dan jangan minta hal yang lebih yang tidak ada pada suamimu…

Ingatlah …
Bahwa suamipun butuh cinta dan kasih sayang,
Sungguh Allah ta’ala menjelaskan, bahwa wanita yang penyayang itu merupakan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya

(ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Qs. Ar-Ruum : 21).

Maka segeralah -wahai putriku- engkau mengungkapakan rasa cinta dan tutur kata yang baik, sehingga telinga suami biasa mendengarnya…

Jika engkau tidak membiasakannya, maka jangan engkau harapkan akan ada imbalan berupa kata-kata manis darinya …

Penuhilah telinga & hati suamimu olehmu -duhai putriku- dengan ucapan yang lembut dan perasaan yang baik…

Ingatlah putriku …
Bahwa kehidupan tidak akan menjadi lurus jika berdiri hanya di atas perasaan saja, karena perasaan saja tidak mungkin direalisasikan di alam nyata …
Maka jadikah engkau seorang wanita yang berada di alam nyata , bukan di alam khayalan…

Demikian, semoga bermanfa’at.

Sumber : “Az-Zawaaj  wa  Al-Ahlaam Al-Wardiyyah“,  Marwah Yusuf  ‘Aasyuur.

Makkah, 1436 H

Sumber : Arfah Ummu Faynan

Mengambil Pelajaran dari 4 Ratu Syurga

Featured image

أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ: خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

“Sebaik-baik wanita penghuni Surga adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran.” (HR. Ahmad, no. 2668).

1. Khadijah bintu khuwailid رضي الله عنها
Sosok yang setia menemani Nabi, membela dengan HARTA dan nyawanya.
Senantiasa memberikan motivasi dikala Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam kondisi lelah dan letih bahkan dalam ketakutan.

Wahai para istri, engkau tak harus menjadi khadijah, dengan membela suamimu dengan harta dan nyawamu. Namun, sudahkah engkau bersyukur dengan nafkah suamimu meski dirasa sedikit? Sudahkah engkau berterima kasih kepada suamimu atas jerih payah keringatnya? Masihkah engkau berikan senyuman motivasi, meski hanya senyuman di pintu rumah melepasnya pergi mencari penyambung kehidupan?

2. Fathimah رضي الله عنها bintu Muhammad صلى الله عليه وسلم
Dijuluki sebagai ‘ibu bagi ayahnya’. Karena, diusia belia ia sudah ditinggal oleh ibundanya khadijah رضي الله عنها. Sehingga tugas sbg ibu rumah tangga ia pikul, meski belum menikah. Sangat banyak dan berat tugasnya, apalagi di masa masa bergejolaknya penentangan kaum musyrikin terhadap dakwah ayahnya صلى الله عليه وسلم

Wahai para istri, engkau tidak harus menjadi Fatimah رضي الله عنها. Hanya saja, sudahkah engkau bersabar dg pekerjaanmu.? Atau engkau masih mengeluh dengan lelahnya mengurus rumah dan melayani suami? Padahal engkau masih hidup dalam keamanan.

3. Asiyah
Hamba Allah جل جلاله yang taat dan sabar dengan ujian Allah تعالى
meski memiliki suami, seorang laki laki yang terburuk yang Allah ciptakan, seorang laki laki penghulu penghuni neraka jahannam. Namun ia tetap bersabar dan hanya takut dan taat kepada Allah تعالى

Wahai para istri, engkau tidak perlu menjadi Asiyah.

Namun, sudahkah engkau menaati suamimu? Atau justru engkau banyak membangkang. Padahal suamimu sangat jauh lebih baik dari Firaun.

4. Maryam
Wanita suci, yang senantiasa bermunajat kepada Allah تعالى. Menutup dirinya di rumah, menjaga kehormatannya.

Dihina dengan sebutan pelacur namun tetap bersabar dengannya.
Wahai para isteri, tak usah engkau menjadi maryam. Yang selalu bersabar dengan cacian dan hinaan orang banyak.

Namun sudahkah engkau mengurangi lisanmu dari ucapan hinaan, cacian atau bahkan meng-ghibahi saudarimu?

نسأل الله العافية

بارك الله فيكم

Sumber : Ustadz Abu Hudzaifah